I. Psikologi Manajemen
Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan.
Kaitannya dengan psikologi:
Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Pasalnya, ilmu psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.
Sumber Daya Organisasi
- Sumber Daya Manusia
- Sumber Daya Informasi
- Sumber Daya Fisik
- Sumber Daya Keuangan
- Sumber Daya Alam
Fungsi-fungsi Manajemen
- Perencanaan (Planning)
- Pengorganisasian (Organizing)
- Pengarahan dan pengimplementasian (Directing/Leading)
- Pengawasan dan Pengendalian (Controlling)
Fungsi Perencanaan
proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.
Kegiatan dalam Fungsi Perencanaan
- Menetapkan tujuan dan target bisnis
- Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut
- Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan
- Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis
Fungsi Pengorganisasian
proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi
Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian
- Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan
- Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab
- Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja
- Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat
Fungsi Pengarahan dan Implementasi
proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi
- Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
- Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
- Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan
Fungsi Pengawasan dan Pengendalian
proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian
- Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
- Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan
- Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis
II. Organisasi
Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.
Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.
III. Komunikasi
Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti 'sama'. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another). Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
IV. Dimensi-dimensi komunikasi
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.
Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan, sedangkan dimensi hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu berita atau artikel dalam surat kabar, misalnya, hanya bukan bergantung pada isinya, namun juga pada siapa, penulisnya, tata letak (lay out)-nya, jenis huruf yang digunakan, warna tulisan, dan sebagainya.
- Dimensi-Dimensi Komunikasi dalam Kehidupan Organisasi
Komunikasi internal.
Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan media nirmassa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu:
Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dll kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dsb. kepada pimpinan.
Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindari beberapa masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.
Komunikasi eksternal.
Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang dianggap sangat penting saja.
source
http://choirunnisawijayanti.blogspot.com/2013/10/psikologi-manajemen.html?m=1
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Organisasi
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Grameia Wiiasarana Indonesia.
Thursday, October 31, 2013
Friday, October 11, 2013
Autobiografi
Nama: Nirmala Sari
Npm: 15511186
Assalamualaikum
wrb.
Alhamdulilah kali ini saya
mendapatkan kesempatan untuk menulis Autobiografi saya dalam rangka memenuhi
tugas perkuliahan softkills. Nama saya Nirmala sari, tetapi teman-teman saya
biasanya memanggil saya Mala. Saya juga mempunyai panggilan khusus dari
sahabat-sahabat saya dari SD yaitu “Olle”. Nama tersebut diperoleh ketika saya
latihan display Marching Band, di sana saya menirukan suara wanita Jepang yang
sedang berkata “toileeet”, adegan tersebut saya lihat dari sebuah iklan di televisi.
Setelah saya mengatakan hal tersebut seluruh lapangan yang dipenuhi semua anak
di sekolah tertawa terbahak-bahak, nah saat itulah teman saya bernama Indah
menobatkan saya dengan nama Olle tersebut.
Saya anak bungsu dari Ibu Nimah
dan Bapak Said Umar Salih. Saya dibesarkan dikeluarga sederhana nan bahagia,
saya mempunyai kakak-kakak yang amat melindungi dan memberikan kasih sayang
untuk saya. Walaupun terkadang halangan dan rintangan datang menghampiri kami,
tetapi dengan kebersamaan semua alhamdulilah terlewatkan.
Tanggal 28 Januari 1993 saya
lahir ke dunia dengan mewarisi apa yang diwariskan oleh Ibu dan Bapak saya,
sifat, bentuk wajah, warna kulit, dan rambut hitam tebal. Hal yang paling
dominan dari saya adalah, saya memiliki alis mata yang tebal dan keduanya
menyatu, sama seperti alis yang dimiliki Bapak saya. Usia saya sekarang ini 20
tahun, usia dimana saya sedang memasuki masa dewasa awal. Sampai di usia ini
banyak hal yang patut saya syukuri kepada Allah SWT.
Tahun 1998 saya memasuki sekolah TK di Griya Sari yang
berlokasi tidak jauh dari rumah saya di Jl. Naya. Di sekolah ini saya belajar
cara bersosialisasi, membaca, bernyanyi, menari dan yang paling penting adalah
bagaimana menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap orang lain. Bakat awal
menari saya tumbuh di sekolah ini, saya sudah mengikuti beberapa perlombaan
menari dan alhamdulilah mendapatkan juara. Semenjak saat itu saya suka sekali
hal-hal di bidang seni khususnya menari.
Tahun 1999 saya memasuki Sekolah Dasar di SDN Cilangkap 03
Pagi. Tahap demi tahap berhasil saya lewati dengan baik. Di sekolah ini juga
saya banyak mengikuti program ekskul seperti Marching Band dimana posisi saya
sebagai pemegang alat music Bleera, kemudian seni music Angklung, dan yang
pastinya seni tari Tradisional. Dari ketiga kesenian yang saya ikuti, semuanya
berhasil mendapatkan juara sampai pada tingkat Provinsi. Hal tersebut merupakan
prestasi yang membahagiakan untuk saya karna dapat mewakili sekolah dan
memberikan yang terbaik untuk sekolah tercinta.
Kemudian pada Tahun 2005 saya berhasil memasuki Sekolah
Menengah Pertama SMPN 230 Jakarta. Di sekolah ini saya mengikuti organisasi
sekolah dan PMR, saya juga sempat mengikuti ekskul tari dan volly. Selama
menuntut ilmu di sekolah ini saya mempunyai banyak cerita mengenai percintaan
anak-anak remaja tetapi hanya sebatas perasaan suka dan kagum tidak ada yang
lebih. Saya mempunyai tiga sahabat yang sampai saat ini masih sangat berarti
untuk saya, yang bernama Fauziah, Fanny, dan Santy. Banyak waktu yang kami
habiskan bersama-sama selama menuntut ilmu di sekolah yang sekarang ini sudah
diresmikan menjadi sekolah SSN atau Sekolah Standar Nasional.
Tahun 2008 saya melanjutkan SMA di Sekolah Islam Al-Maruf Jakarta.
Selama 3 tahun saya berjuang untuk lulus dengan nilai yang memuaskan. Setelah
memasuki tingkat 2 akhirnya saya mendapatkan kelas dengan jurusan IPA. Di
sekolah ini saya berhasil mendapatkan mendali dan beasiswa sebagai The Best
Student in Academic. Alhamdulilah saya sangat bahagia pada saat pengumuman
tersebut. Setelah 3 tahun saya lewati akhirnya saya memasuki jenjang Perguruan
Tinggi dan Universitas yang saya minati adalah Universitas Gunadarma dengan
jurusan Psikologi. Tahun 2011 awal perjuangan saya di Perguruan Tinggi
Universitas Gunadarma. Sejauh ini prestasi yang saya peroleh barulah sebatas
IPK. Semester pertama saya berhasil mendapatkan IPK 3,42 dengan usaha yang amat
sangat menguras tenaga, dan saya amat sangat bersyukur walaupun sampai tingkat
3 ini angkanya selalu berubah. Sekian apa yang dapat saya tulis, apabila ada
kesalahan dan kekhilafan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan semoga tulisan
ini dapat bermanfaat.
Tuesday, June 25, 2013
Tugas Rangkuman (tulisan 4)
Penyesuaian
Diri dan Pertumbuhan Personal
a.
Pengertian dan Konsep Penyesuaian Diri
Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau
tidak mampu menyesuaikan diri. Kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi
dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan
berkembangnya proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang
sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang
antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak
terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun,
penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus
menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai
pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat
ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis,
baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Apakah Penyesuaian diri itu?
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah
perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu
dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan
batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang
menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan
penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu
yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena
ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga,
sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui
bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka
untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.
b.
Pengertian Pertumbuhan Personal
Manusia merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu
apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan
bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam
lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap
dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak
sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi
sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan
hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor
yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah
faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan
karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama
dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang
mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal
individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat
atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga
mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat
memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah hal itu benar atau
tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam masyarakat yang memiliki
suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan
akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada
di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan
aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian
sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan
keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka
individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
Hubungan
Interpersonal
Dalam suatu interaksi,
dapat dimungkinkan munculnya hubungan interpersonal dimana hubungan antara
pihak-pihak yang berinteraksi telah menjadi lebih jauh. Dalam hubungan
interpersonal terdapat beberapa unsur yang dapat digunakan dalam
mengklasifikasi hubungan interpersonal tersebut. Unsur tersebut meliputi jumlah
individu yang terlibat, tujuan yang ingin dicapai, jangka waktu hubungan, serta
tingkat kedalaman atau keintiman hubungan.
Hubungan interpersonal
sendiri dibagi kedalam empat model. Model sendiri menurut B. Aubrey Fisher
merupakan analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan
unsur, sifat, atau komponen yang penting dari sebuah fenomena. Dengan kata lain
model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori.
A. Model- model Hubungan Interpersonal
a. Model pertukaran sosial
(social exchange model)
Hubungan interpersonal
diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena
mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut
akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta
hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
b. Model peranan (role
model)
Hubungan interpersonal
diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya
sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu
bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role
demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik
peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan
dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan
peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan
memainkan peranan tertentu.
c. Model permainan (games
people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua
(aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang
tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa
(bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
Pada interaksi individu menggunakan salah
satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah
satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan
ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari
rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
d. Model Interaksional
(interacsional model)
Model ini memandang
hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat
struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model
pertukaran, peranan dan permainan.
B. Memulai Hubungan
1. Pembentukan
Tahap ini sering disebut
juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik
dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai
oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya.
Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai
pihak yang lain. bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses
mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data
demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan
pada tujuh kategori
2. Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat
statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan
interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan
keseimbangan.
3. Pemutusan Hubungan
Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang
berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima sumber konflik
yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan
C. Intimasi dan Hubungan Pribadi
Menurut Steinberg (1993)
berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara
dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk
memperlihatkan pribadimmasing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif
serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama. Sullivan (Prager, 1995)
mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk
mengekspresikan akan kebutuhannyaterhadap orang lain. Intimasi juga adalah
salah satu atribut yang paling menonjol dalam suatu hubungan intim daripada
hubungan pribadi yang lain. Keintiman (intimacy) sangat berkaitan dengan
derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian
pasangan dalam hubungan yang dekat (intim). Keintiman juga memberikan sumbangan
besar dalam memenuhi kebutuhan individu dan keintiman itu pun memberikan efek
positif pada kebaikan pasangan dalam suatu hubungan pertemanan (Prager &
Buhrmester).
Untuk menjalin hubungan
pribadi diperlukan adanya intimacy Cinta interpersonal membutuhkan tiga
hal: Intimacy, Passion, dan Commitment.
Perasaan dekat dan nyaman muncul dari kualitas kebersamaan yang bagus.
Keberasamaan yang menciptakan Intimacy dan kenyamanan ini
adalah sebuah wujud awal dari cinta yang sering disebut sebagai persahabatan
atau pertemanan (Liking/Friendship). Proses pendekatan itu proses dimana
kebersamaan yang menciptakan Intimacy dan kenyamanan yang
merupakan wujud awal cinta. Jika Intimacy, Passion, dan Commitment terpenuhi,
maka sebuah hubungan akan menjadi sempurna karena dliliputi oleh cinta yang
menyeluruh (Consummate Love).
D. Intimasi dan Pertumbuhan
Sullivan (Prager, 1995)
mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang
untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian,
Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah
ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu
sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang
terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan
aktivitas yang sama. Factor-factor yang menumbuhkan hubungan interpersonal
uang baik berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha
mengendalikan.factor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain.
Kejujuran, factor ketiga
yang menumbuhkan sikap percaya.sikap yang mengurangi sikap defensive dalam
komunikasi.amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal
yang efektif.Teori-teori tentang efek komunikasi yang oleh para pakar
komunikasi tahun 1970-an dinamakan pulahypodermic needle theory, teori
ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan
komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori peluru yang dikemukakan
Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut pada tahun 1970-an dan
meminta kepada para pendukungnya yang menganggap teori ini tidak ada.
Cinta
dan Perkawinan
Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia
untuk saling mencintai, memiliki, memenuhi dan melengkapi. Ada tiga elemen yang
menentukan “pola” hubungan cinta sepasang manusia menurut Sternberg, yaitu :
· Intimacy,
merupakan elemen emosional yang meliputi keterbukaan, kehangatan, dan rasa
saling percaya. Passion,
merupakan elemen motivasi yang meliputi ketertarikan fisik seksual.
· Commitment,
merupakan elemen pemikiran yang membuat seseorang memutuskan untuk mencintai
dan hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Hubungan cinta dengan absennya
commitment hanya akan menjadi sebuah romantic love atau cinta romantis. Cinta
seperti ini hanya dilandasi ketertarikan fisik dan kebutuhan emosional satu
sama lain. Bila sampai beberapa lama commitment tidak juga muncul, maka
hubungan cinta jenis ini biasanya akan segera berakhir. Karena dalam hubungan
cinta, commitment juga menjadi salah satu faktor penentu jalannya suatu
hubungan tersebut.
Selanjutnya akan dibahas mengenai perkawinan, perkawinan adalah ikatan sosial
atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan
dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan
antar pribadi – yang biasanya intim dan seksual. Perkawinan dijalani dengan
maksud untuk membentuk keluarga. Tergantung budaya setempat bentuk dan tujuan
perkawinan bisa berbeda-beda. Tetapi pada umumnya perkawinan itu eksklusif dan
mengenal konsep perselingkuhan sebagai pelanggaran terhadap perkawinan
tersebut.
A. Bagaimana memilih pasanggan ?
Setelah kita mengetahui tentang tujuan menikah maka Islam juga mengajarkan
kepada umatnya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup karena hidup
berumah tangga tidak hanya untuk satu atau dua tahun saja, akan tetapi
diniatkan untuk seumur hidup dan selama-lamanya sampai akhir hayat. Seseorang
yang akan menikah hendaknya memilih pendamping hidupnya dengan cermat, hal ini
dikarenakan apabila seorang muslim sudah menjatuhkan pilihan kepada
pasanggannya yang berarti akan menjadi bagian dalam hidupnya.
Wanita yang akan menjadi istri atau ratu dalam rumah tangga dan menjadi ibu
atau pendidik bagi anak-anaknya, demikian pula pria yang menjadi suami atau
pemimpin rumah tangganya dan bertanggung jawab dalam menghidupi (memberi
nafkah) bagi anak istrinya. Maka dari itu, janganlah sampai menyesal terhadap
pasangan hidup pilihan kita setelah berumah tangga kelak.
B. Seluk beluk hubungan dalam pernikahan
Inilah puncak dari segalanya, setelah melewati masa pacaran dengan baik. Dengan
saling mengikrarkan janji suci untuk sehidup semati baik dalam sehat maupun
sakit, dalam keadaan kaya ataupun miskin dan hanya maut yang dapat memisahkan
mereka. Tahap ini dimulainya sebuah babak baru, relasi yang ditandai dengan
munculnya komitmen tanpa syarat untuk saling mencintai dan memiliki. Kalau
tahap perkenalan merupakan sebuah pintu gerbang menuju ke tingkat pacaran, maka
tahap pernikahan merupakan puncak dari tingkat hubungan paling akrab dan mulia
yang dilakukan.
C. Penyesuaian dan pertumbuhan dalam perkawinan
Dwan J. Lipthrott, LCSW mengatakan bahwa ada 5 tahap perkembangan dalam
kehidupan perkawinan. Bisa jadi antara pasangan suami-istri yang satu dengan
yang lainnya memiliki waktu berbeda saat menghadapi melalui tahapannya.
· Tahap
1 : Romantic Love, tahap ini adalah saat pasangan merasakan gelora
cinta yang begitu besar.
· Tahap
2 : Dissapointment of Distress, di tahap ini pasangan suami-istri
kerap saling menyalahkan, memiliki rasa amarah dan kecewa pada pasangan,
berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.
· Tahap
3 : Knowledge and Awareness , bahwa pasangan suami-istri yang
sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri
pasangannya.
· Tahap
4 : Transformation, Suami-istri pada tahap ini akan mencoba tingkah
laku yang berkenan di hati pasangannya.
· Tahap
5 : Real Love, pada tahap ini pasangan suami-istri akan kembali
dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan
dengan pasangannya.
D. Perceraian dan pernikahan kembali
Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami-istri yang dalam hal ini
adalah cerai hidup yang disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam
menjalankan obligasi peran masing-masing. Dimana perceraiaan dipahami sebagai
hasil akhir dari ketidakstabilan perkawinan antara suami-istri yang selanjutnya
hidup secara terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.
estabilan keluarga tampak lebih kondusif berlangsung
dalam pola perkawinan kedua dan ketiga dimana posisi istri mulai berkembang
menjadi pelengkap suami dan teman yang saling membantu dalam mengatur kehidupan
bersama. Sementar itu hal sebaliknya dapat terjadi pada pola perkawinan equal
partner. Pengakuan hak persamaan kedudukan dengan pria menyebabkan semakin
tidak tergantungnya istri pada suami. Istri mendapat dukungan dan pengakuan
dari orang lain karena kemampuannya sendiri dan tidak dikaitkan dengan suami.
E. Single Life
Siapapun pasti mendambakan memiliki hubungan yang langgeng dan adem ayem dalam
hidupnya. Namun terkadang kehidupan tidak melulu berisi dengan hal-hal indah
saja, tetapi kadangkala kepahitan pun datang. Kebanyakan orang menilai dengan
berakhirnya masa pernikahan bahagia, maka kehidupan berakhir. Menjadi sendiri
lagi bukanlah akhir dari segalanya. Termasuk menjadi single parent untuk
anak-anak tercinta, justru ini merupakan sebuah awal babak baru kehidupan.
Refrensi :
ü Id.wikipedia.org/wiki/perkawinan
ü http://hendriyana.abatasa.co.id
ü http://www.psychologymania.com
ü http://m.tabloidnova.com
ü http://pemulihanjiwa.com/teori-teori-hubungan-interpersonal-2.html
ü http://whatsupdee.blogspot.com/p/model-hubungan-interpersonal.html
ü Nasution, Noehi dkk.
1992. Psikologi pendidikan. Jakarta: Depdikbud
ü Payitno, Elida. 1991. Psikologi
perkembangan. Jakarta: Depdikbud.
ü Wirawan,
Sarlito S. 2002. Individu dan teori-teori psikologi social. Jakarta: Balai
Pustaka
ü Aronson ,Elliot .(2005).social
psychology .upper saddle river :person prentice hall
ü Hall, S Calvin., Lindzey ,
Gardner., (2009). teori - teori psikodinamika, yogyakarta:kanisius
ü eprints.undip.ac.id/10947/1/SKRIPSI.pdf
ü www.psikologi.org
ü Basuki, Heru. (2008). Psikologi
Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
ü Schneiders, A.
(1964). Personal Adjustment and Mental Health. New York: Rinehart
& Winston.
ü Sarwono, W, Sarlito. 2010. Psikologi
Remaja. RajaGrafindo Persada : Jakarta.
ü S, Yusuf. 2004. Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offse :
Bandung.
ü http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/penyesuaian-diri-pertumbuhan-personal.html
ü http://rumusbelajar.blogspot.com/2012/12/pengertian-penyesuaian-diri.html
ü http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyesuaian-diri.html
ü http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-konsep-diri.html
ü http://www.sarjanaku.com/2012/06/pengertian-penyesuaian-diri-definisi.html
Sunday, May 26, 2013
Tulisan 3
Cinta dan
Perkawinan
Cinta adalah sebuah perasaan yang
diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling mencintai, memiliki,
memenuhi dan melengkapi. Ada tiga elemen yang menentukan “pola” hubungan cinta
sepasang manusia menurut Sternberg, yaitu :
· Intimacy,
merupakan elemen emosional yang meliputi keterbukaan, kehangatan, dan rasa
saling percaya.
·
Passion,
merupakan elemen motivasi yang meliputi ketertarikan fisik seksual.
· Commitment,
merupakan elemen pemikiran yang membuat seseorang memutuskan untuk mencintai
dan hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Hubungan cinta dengan absennya
commitment hanya akan menjadi sebuah romantic love atau cinta romantis. Cinta
seperti ini hanya dilandasi ketertarikan fisik dan kebutuhan emosional satu
sama lain. Bila sampai beberapa lama commitment tidak juga muncul, maka
hubungan cinta jenis ini biasanya akan segera berakhir. Karena dalam hubungan
cinta, commitment juga menjadi salah satu faktor penentu jalannya suatu
hubungan tersebut.
Selanjutnya akan dibahas mengenai
perkawinan, perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar
pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata
dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi – yang biasanya
intim dan seksual. Perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
Tergantung budaya setempat bentuk dan tujuan perkawinan bisa berbeda-beda.
Tetapi pada umumnya perkawinan itu eksklusif dan mengenal konsep perselingkuhan
sebagai pelanggaran terhadap perkawinan tersebut.
A. Bagaimana
memilih pasanggan ?
Setelah kita mengetahui tentang
tujuan menikah maka Islam juga mengajarkan kepada umatnya untuk berhati-hati
dalam memilih pasangan hidup karena hidup berumah tangga tidak hanya untuk satu
atau dua tahun saja, akan tetapi diniatkan untuk seumur hidup dan
selama-lamanya sampai akhir hayat. Seseorang yang akan menikah hendaknya
memilih pendamping hidupnya dengan cermat, hal ini dikarenakan apabila seorang
muslim sudah menjatuhkan pilihan kepada pasanggannya yang berarti akan menjadi
bagian dalam hidupnya.
Wanita yang akan menjadi istri atau
ratu dalam rumah tangga dan menjadi ibu atau pendidik bagi anak-anaknya,
demikian pula pria yang menjadi suami atau pemimpin rumah tangganya dan
bertanggung jawab dalam menghidupi (memberi nafkah) bagi anak istrinya. Maka
dari itu, janganlah sampai menyesal terhadap pasangan hidup pilihan kita
setelah berumah tangga kelak.
Kriteria
memilih calon istri :
·
Hendaknya
calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita
yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan seorang
ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Dari Abu Hurairah Radliyallahu
‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “perempuan itu
dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya,
dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu
bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
Dalam hadist di atas dapat kita
lihat bagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menekankan pada sisi
agamanya dalam memilih istri dibanding dengan harta, keturunan, bahkan
kecantikan sekalipun.
·
Hendaklah
calon istri itu penyayang, Al Wuduud berarti yang penyayang atau dapat juga
berarti penuh kecintaan, dengan dia mempunyai banyak sifat kebaikan, sehingga
membuat laki-laki berkeinginan untuk menikahinya.
·
Hendaknya
memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah
menikah. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai hikmah secara sempurna dan manfaat
yang agung, diantara manfaat tersebut adalah memelihara keluarga dari hal-hal
yang akan menyusahkan kehidupannya, menjerumuskan ke dalam berbagai
perselisihan, dan menyebarkan polusi kesulitan dan permusuhan. Pada waktu yang
sama akan mengeratkan tali cinta kasih suami istri. Sebab gadis itu akan
memberi sepenuhnya kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali
melindungi, menemui, dan mengenalinya.
·
Mengutamakan
orang jauh (dari kekerabatan) dalam perkawinan. Hal ini dimaksudkan untuk
keselamatan fisik anak keturunan dari penyakit-penyakit yang menular atau cacat
secara hereditas. Sehingga anak tidak tumbuh besar dalam keadaan lemah atau
mewarisi cacat kedua orang tuanya.
Disamping itu juga untuk memperluas pertalian kekeluargaan dan mempererat
ikatan-ikatan sosial.
Kriteria
memilih calon suami :
·
Seagama,
ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang muslimah dalam
memilih calon suami sebab dengan seagama
inilah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak.
·
Berilmu
dan baik akhlaknya, masa depan kehidupan suami-istri erat kaitannya dengan
memilih suami, maka Islam memberi
anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama.
·
Laki-laki
yang memiliki keistimewaan adalah laki-laki yang mempunyai ketakwaam dan
kesalihan akhlak. Dia mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagimana
memperlakukan istri, berbuat baik kepadanya, dan menjaga kehormatan dirinya
serta agamanya, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjalani kewajibannya
secara sempurna di dalam membina keluarga dan menjalankan kewajiban sebagai
suami istri, mendidik anak-anak, menegakan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan
rumah tangga dengan tenaga dan nafkah.
B. Seluk
beluk hubungan dalam pernikahan
Inilah puncak dari segalanya,
setelah melewati masa pacaran dengan baik. Dengan saling mengikrarkan janji
suci untuk sehidup semati baik dalam sehat maupun sakit, dalam keadaan kaya
ataupun miskin dan hanya maut yang dapat memisahkan mereka. Tahap ini dimulainya
sebuah babak baru, relasi yang ditandai dengan munculnya komitmen tanpa syarat
untuk saling mencintai dan memiliki. Kalau tahap perkenalan merupakan sebuah
pintu gerbang menuju ke tingkat pacaran, maka tahap pernikahan merupakan puncak
dari tingkat hubungan paling akrab dan mulia yang dilakukan.
C. Penyesuaian
dan pertumbuhan dalam perkawinan
Dwan J. Lipthrott, LCSW mengatakan
bahwa ada 5 tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan. Bisa jadi antara
pasangan suami-istri yang satu dengan yang lainnya memiliki waktu berbeda saat
menghadapi melalui tahapannya.
·
Tahap
1 : Romantic Love, tahap ini adalah
saat pasangan merasakan gelora cinta yang begitu besar.
·
Tahap
2 : Dissapointment of Distress, di
tahap ini pasangan suami-istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa amarah
dan kecewa pada pasangan, berusaha
menang atau lebih benar dari pasangannya.
·
Tahap
3 : Knowledge and Awareness , bahwa
pasangan suami-istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana
posisi dan diri pasangannya.
·
Tahap
4 : Transformation, Suami-istri pada
tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya.
·
Tahap
5 : Real Love, pada tahap ini
pasangan suami-istri akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan,
keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangannya.
D. Perceraian
dan pernikahan kembali
Perceraian merupakan terputusnya
hubungan antara suami-istri yang dalam hal ini adalah cerai hidup yang
disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran
masing-masing. Dimana perceraiaan dipahami sebagai hasil akhir dari ketidakstabilan
perkawinan antara suami-istri yang selanjutnya hidup secara terpisah dan diakui
secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.
Hubungan suami-istri juga dapat
dilihat dan dibedakan berdasarkan pola perkawinan yang ada dalam masyarakat.
Scanzoni dan Scanzoni (1981) mengkatagorikannya ke dalam empat bentuk pola
perkawinan, yaitu :
·
Owner
Property,
·
Head
Complement,
·
Senior
Junior Partner, dan
·
Equal
Partner.
Kestabilan keluarga tampak lebih
kondusif berlangsung dalam pola perkawinan kedua dan ketiga dimana posisi istri
mulai berkembang menjadi pelengkap suami dan teman yang saling membantu dalam
mengatur kehidupan bersama. Sementar itu hal sebaliknya dapat terjadi pada pola
perkawinan equal partner. Pengakuan hak persamaan kedudukan dengan pria
menyebabkan semakin tidak tergantungnya istri pada suami. Istri mendapat
dukungan dan pengakuan dari orang lain karena kemampuannya sendiri dan tidak
dikaitkan dengan suami.
Di antara ke empat pola ini
menjelaskan tingkat perceraian cenderung lebih tinggi pada pola perkawinan
Owner Property. Oleh karena pola perkawinan tersebut berasumsi bahwa istri
adalah milik suami, seperti halnya barang-barang berharga lainnya di dalam
keluarga itu yang merupakan milik dan tanggung jawab suami. Istri sangat
tergantung secara sosial ekonomi kepada suami. Akibat dari pola perkawinan
seperti ini suami berhak menceraikan istrinya apabila tidak mendapatkan
kepuasan yang diinginkan ataupun tidak menyukai istrinya lagi.
E. Single
Life
Siapapun pasti mendambakan memiliki
hubungan yang langgeng dan adem ayem dalam hidupnya. Namun terkadang kehidupan
tidak melulu berisi dengan hal-hal indah saja, tetapi kadangkala kepahitan pun
datang. Kebanyakan orang menilai dengan berakhirnya masa pernikahan bahagia,
maka kehidupan berakhir. Menjadi sendiri lagi bukanlah akhir dari segalanya.
Termasuk menjadi single parent untuk anak-anak tercinta, justru ini merupakan
sebuah awal babak baru kehidupan.
Beberapa
tips yang akan membantu dalam menghadapi dan menjalani kehidupan babak single
yang baru, yaitu :
·
Me
Time
Bisa dipastikan semua wanita yang
mengalami perceraian dan menjadi sendiri lagi dalam kehidupannya mengalami
depresi, perasaan tidak berdaya, emosi, dan malu. Oleh karenanya sediakan waktu
untuk diri sendiri terlebih dahulu. Tujuannya tidak lain adalah untuk
menenangkan diri, introspeksi diri sambil melupakan perasaan kecewa akan
kehilangan orang yang dicintai atau kehilangan pasangan hidupnya bila telah
berumah tangga cukup lama, hingga meluapkan emosi yang terpendam.
Kesendirian dalam fase ini mutlak
diperlukan, sebab dengan memiliki “ me time” ini maka ada kesempatan untuk
mempunyai waktu berbincang dengan diri sendiri, tanpa adanya intervensi ataupun
hiburan dari kanan dan kiri yang terkadang justru tidak obyektif dan semakin
membuat rumit.
·
Rangkul
Sahabat Sejati
Setelah selesai melakukan ritual
“me time”, artinya sudah siap kembali ke pelukan orang-orang terdekat. Pilihlah
sahabat terdekat dan keluarga terdekat yang memang telah dipercayai dengan hati
bila ingin bercerita.
·
Hidup
Itu Indah
Memiliki status baru setelah
mengalami gagalnya pernikahan, bukanlah suatu alasan untuk merasa malu dan
minder dengan yang lainnya. Setiap manusia tidak ada yang sempurna. Jadi tidak
ada satupun orang yang berhak menghakimi atas kegagalan yang telah dialami. Hadapi
dunia dengan lantang dan sapalah orang di sekeliling seperti biasanya.
Refrensi :
ü Id.wikipedia.org/wiki/perkawinan
Subscribe to:
Posts (Atom)
